HMI dan Negara: Katanya Mitra Kritis, Jangan Malah Jadi Event Organizer Pemerintah HMI itu lahir tahun 1947 dengan dua komitmen besar: Keislaman dan Keindonesiaan. Sejarah mencatat kader HMI pernah jadi penentu arah bangsa, dari zaman mempertahankan kemerdekaan sampai Reformasi. Tapi kalau ngomongin hari ini, posisi HMI di hadapan negara sering bikin elus dada. Lalu, harusnya gimana sih sikap HMI ke pemerintah? Di konstitusi HMI, independensi itu harga mati. Harusnya HMI berdiri tegak tanpa perlu sungkem ke pejabat atau parpol. Hubungan sama negara itu sifatnya setara. Jangan sampai cuma gara-gara diiming-imingi anggaran kegiatan atau posisi aman, independensi langsung digadaikan. Negara itu butuh dikontrol biar gak sewenang-wenang. Di sinilah peran HMI sebagai penyambung lidah rakyat. Kalau kebijakan pemerintah bagus dan pro-rakyat, ya dukung. Tapi kalau kebijakannya nyusahin rakyat, kritik keras pakai kajian akademik, bukan sekadar demo pesanan. HMI itu pencetak kader berpikir, bukan cheerleader kebijakan publik. HMI bukan wadah buat transaksi suara ditukar posisi. Tugas utamanya melahirkan kader berotot pikir kuat dan berakhlak. Negara butuh anak muda yang paham masalah hukum, ekonomi, dan sosial, bukan pemburu lapak birokrasi yang cuma paham cara bagi-bagi kekuasaan. Singkatnya, HMI di hadapan negara itu harusnya kayak kawan tangguh. Kalau negara benar, dirangkul. Kalau negara ngawur, ya ditagih komitmennya. Jangan malah ngerangkul terus sambil minta bagian.
1 Komentar