Idealisme dan kebenaran ilmu pengetahuan
Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri melalui jalan idealisme dan alatnya adalah ilmu pengetahuan.
Fikri Fachri
20 Okt 2026 · 1 menit baca

Sejak zaman penjajahan sudah banyak orang-orang yang menjadi pahlawan kemerdekaan seperti Soekarno yang akhirnya berkuasa tapi tentu saja penuh cacat, tetapi ada juga orang-orang yang tetap dalam idealismenya seperti Tan malaka tetapi mati dalam sepi juga saat orde lama dan awal orde baru ada Soe Hok Gie yang tetap pada nalar kritis dan idealisme nya tapi mati dalam sunyi di puncak Mahameru. Awal Reformasi Munir tetap pada pendiriannya untuk membela HAM dan mati diracun diudara.
Idealisme adalah jalan "kenabian" pilihannya hanya mati atau hidup dalam kesederhanaan. Tak banyak orang yang bisa bertahan dalam idealismenya sampai harus menjual prinsip dan moral keyakinan nya kepada penguasa. Demi mencapai nafsu semata (Wanita, kekayaan dan kekuasaan). Idealisme tak menjamin mu untuk hidup lurus atau bahkan kaya tapi idealisme bisa menuntun mu ke arah cahaya, bahkan di abad paling kegelapan sekalipun di eropa pada masa Renaisans sekitar mulai dari abad ke-14 sampai abad ke-17 kebenaran selalu menemukan jalannya sendiri lewat jalan keteguhan idealisme dan alat nya adalah ilmu pengetahuan. Giordano Bruno (1548 M–1600 M) dihukum mati oleh inkuisisi Romawi dengan cara dibakar hidup-hidup, Galileo Galilei (1564 M–1642 M) dihukum seumur hidup oleh inkuisi gereja katolik, mereka dihukum karena mempertahankan argumentasi ilmiah yang diyakini, bahkan sang filsuf dari yunani socrates (470 SM 399 SM) dihukum mati dengan cara meminum racum hemlock, ia dihukum mati karena mempertahankan argumentasi filosofi nya, bahkan ketika ditawari untuk mengasingkan diri ia tetap memilih hukuman mati demi mempertahankan idealisme yang diyakini nya. Lewat perjuangan yang taruhannya adalah kematian para pendahulu kita membuktikan bahwa jalan kebenaran adalah jalan yang terjal dan penuh liku, mereka tak mengincar gemerlapnya dunia tapi yang mereka tuju adalah kebenaran yang mereka yakini, melalu jalan terjal itulah cahaya-cahaya kebenaran ilmu pengetahuan menemui kejayaannya lewat perjalanan yang sangat panjang dan berdarah-darah.
Ditulis oleh
Fikri Fachri