Di Antara Arus Sejarah dan Kesadaran Manusia
Muhammad Yusuf
19 Okt 2026 · 4 menit baca

Arus besar sejarah senantiasa bergerak. Perubahan demi perubahan berlangsung, melahirkan peristiwa-peristiwa baru dengan manusia sebagai subjek sekaligus bagian dari sejarah itu sendiri. Namun, hari ini manusia tidak lagi sekadar beradaptasi dengan perubahan alam. Ia bahkan telah mengintervensi siklus-siklus alam, mengubah keseimbangan ekologis, dan menciptakan risiko yang mungkin tak sepenuhnya mampu ia kendalikan.
Sejarah akan terus bergerak. Peristiwa-peristiwa baru akan lahir, dan mungkin, fase sejarah berikutnya akan menghadirkan tantangan yang jauh lebih rumit, bahkan berbahaya, daripada yang pernah dibayangkan manusia sebelumnya.
Di antara arus besar itu, masih ada sekelompok kecil manusia yang memilih untuk tetap berprasangka baik terhadap masa depan. Mereka menyadari bahwa perubahan tidak selalu membawa kemajuan, bahwa sejarah tidak selalu bergerak menuju keadaan yang lebih baik, dan bahwa manusia bisa saja menjadi korban dari perubahan yang diciptakannya sendiri.
Mereka terus melatih diri, menempa kesadaran, dan mempersiapkan keberanian agar tidak mati sia-sia dalam pusaran sejarah yang begitu kuat.
HMI, misalnya. Di lorong-lorong kecil kaderisasi, di ruang-ruang sederhana tempat gagasan dipertukarkan, proses pembentukan manusia terus dilanjutkan. Ada keyakinan bahwa sejarah tidak boleh hanya diserahkan kepada mereka yang memiliki kekuasaan, modal, dan kemampuan untuk mendominasi. Sejarah juga membutuhkan manusia yang berpikir, memiliki keberanian moral, dan sanggup mempertanggungjawabkan tindakannya di hadapan kemanusiaan.
Kaderisasi, dalam pengertian ini, bukan sekadar proses melanjutkan organisasi. Ia adalah ikhtiar mempersiapkan manusia untuk menghadapi zamannya: manusia yang tidak mudah ditaklukkan oleh keadaan, tidak kehilangan orientasi di tengah perubahan, dan tidak menjadikan kekuasaan sebagai tujuan akhir perjuangan.
Sebab arus sejarah telah menghanyutkan begitu banyak manusia yang terlena. Di tengah gemuruh perubahan, hanya sedikit yang mampu bertahan dengan kesadarannya. Ironisnya, kesadaran itu sendiri kerap disingkirkan oleh egoisme, kerakusan, dan hasrat untuk menguasai. Mereka yang memiliki kuasa atas perubahan justru sering kali adalah mereka yang paling sedikit memikirkan akibatnya bagi kehidupan bersama.
Sementara itu, mereka yang masih menyimpan niat tulus untuk berbuat baik seolah kehilangan daya. Suara mereka tenggelam, ruang gerak mereka menyempit, dan gagasan mereka kerap dianggap tidak realistis di hadapan kepentingan yang lebih besar. Mereka memiliki kesadaran, tetapi tidak selalu memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan.
Di sinilah ironi zaman kita: kesadaran tidak selalu berkuasa, sementara kekuasaan tidak selalu memiliki kesadaran.
Berbagai kelompok masyarakat yang dahulu disatukan oleh cita-cita nasionalisme kini berhadapan dengan belenggu kapitalisme yang bukan hanya menguasai sumber daya, tetapi juga membentuk cara berpikir, menentukan apa yang dianggap penting, dan mengarahkan ke mana perhatian publik harus ditujukan. Ide-ide pun dapat menjadi komoditas. Perjuangan bisa kehilangan makna ketika lebih sibuk mempertahankan simbol daripada memperjuangkan substansi.
Pemerintah, yang memperoleh kepercayaan untuk mengurus keberlanjutan hidup rakyat dan menjaga arah peradaban, semestinya menjadi bagian dari jawaban atas persoalan zaman. Namun, ketika kekuasaan lebih sibuk merawat kepentingannya sendiri, amanah berubah menjadi beban yang dikhianati, sementara masa depan rakyat dipertaruhkan demi kepentingan sesaat.
Pada saat yang sama, alam terus menanggung akibat dari keputusan-keputusan manusia. Hutan ditebang, tanah dikeruk, sungai dibebani limbah, dan keseimbangan ekologis terus diganggu. Kita kerap menyebut semua itu sebagai harga pembangunan, seolah-olah alam tidak memiliki batas dan kehidupan tidak memiliki daya dukung yang harus dihormati.
Padahal, manusia bukan penguasa mutlak atas bumi. Ia hanya bagian dari kehidupan yang lebih luas, yang keberlangsungannya bergantung pada keseimbangan yang sering kali ia rusak sendiri.
Lalu, suatu hari, ketika alam memasuki fase pemulihannya dengan caranya sendiri, ketika krisis ekologis mengubah tatanan kehidupan dan sejarah memaksa manusia menghadapi akibat dari pilihannya, bagaimana nasib kita?
Ketika keadaan yang selama ini kita anggap mapan runtuh, ketika jabatan tak lagi dapat melindungi, kekayaan tak lagi menjamin keselamatan, dan berbagai kebanggaan kehilangan artinya, apa yang masih tersisa dari diri kita?
Dan ketika waktu kita benar-benar berakhir, apa yang sesungguhnya telah kita persiapkan?
Apakah kita masih akan sibuk memperdebatkan siapa pasangan yang paling ideal, merayakan klub sepak bola kesayangan yang berhasil membalikkan keadaan, atau merancang berbagai cara untuk mempertahankan jabatan?
Apakah semua itu salah? Tidak. Manusia tetap membutuhkan cinta, hiburan, dan ruang untuk menjalani kehidupan pribadinya. Namun, menjadi persoalan ketika hal-hal tersebut menyita seluruh perhatian kita, sementara persoalan yang menentukan keberlanjutan kehidupan justru kita abaikan.
Barangkali masalah terbesar manusia bukan semata-mata karena ia tidak mengetahui bahwa krisis sedang mendekat, melainkan karena ia mengetahui, tetapi memilih untuk tetap hidup seolah-olah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Maka, di tengah arus sejarah yang semakin deras, kita membutuhkan lebih dari sekadar manusia yang mampu bertahan. Kita membutuhkan manusia yang sadar akan ke mana sejarah sedang bergerak, berani mempertanyakan arah perubahan, dan bersedia mengambil tanggung jawab sebelum semuanya terlambat.
Di sinilah kaderisasi menemukan maknanya. Bukan untuk melahirkan manusia yang sekadar pandai membaca keadaan, bukan pula mereka yang hanya ingin mengambil bagian dalam perebutan kekuasaan, melainkan manusia yang sanggup menjaga kewarasan, kemanusiaan, dan keberlanjutan kehidupan ketika dunia kehilangan arah.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak hanya akan mengingat siapa yang pernah berkuasa, tetapi juga akan memperlihatkan akibat dari keputusan-keputusan mereka.
Pertanyaannya kemudian adalah, ketika sejarah menilai zaman ini, kita akan berdiri sebagai manusia yang turut merusak masa depan, manusia yang hanya menyaksikan kehancurannya, atau manusia yang berusaha mencegahnya?
Ditulis oleh
Muhammad Yusuf