Artikel

Antroposentrisme dan Pelestarian Alam.

Dipda Fiqry Hartaman

Dipda Fiqry Hartaman

19 Okt 2026 · 3 menit baca

Prolog

ketika kita bicara filsafat ekologi maka kita akan menjumpai dengan pertanyaan yang paling fundamental yaitu, mengapa hidup itu harus dilestarikan?

Bab I

Fenomenologi Alam dan Masalah Antroposentris.

dalam pembicaraan ekologi atau berkaitan dengan kajian lingkungan hidup maka kita selalu dihadapkan dengan pandangan ideal cara berkehidupan, tatanan seperti apa yang mesti kita wujudkan sehingga kehidupan ini dapat berkelanjutan, persoalan itu muncul dalam dunia filsafat ekologi yg kemudian melahirkan pertanyaan apa yang membuat hidup itu bernilai dan apa yang kemudian pelestarian alam terhadap lingkungan hidup itu harus di lakukan?

jawaban standard filsafat ekologi adalah bahwa alam memiliki nilai karena berkaitan dengan kelangsungan hidup manusia, pernyataan tersebut kemudian dibawakan oleh john passmore salah seorang filsuf ekologi, bahwa ada dua hal cara manusia memandang alam, yang pertama adalah despotic view adalah cara pandang bahwa manusia menjadi tirani diktator pada alam lingkungan atau secara sederhana lingkungan dapat diperlakukan sebagai objek eksploitasi, cara pandang kedua adalah Responsible Dominion View yang merupakan cara pandang bahwa manusia bertanggung jawab dalam hal pengelolaan atau pelestarian lingkungan hidup.

namun di sekitar tahun 70 an perkembangan tesebut menemukan pendekatan yang berbeda yang mengkritik pendekatan konvensional ala passmore yaitu Deep Ecology atau Ekologi dalam aliran ini di cetuskan oleh seperti Arne Naess atau Val Plumwood, bagi plumwood pendekatan ala passmore itu cenderung sama, keduanya dilandasi oleh cara pandang manusia yang intsrumentalis terhadap alam, pendekatan tersebut terlalu antroposentrik, artinya pandangan tersebut terlalu menempatkan manusia sebagai pusat pertimbangan moral. ini menjadi masalah utama ekologi pada umumnya, para filsuf “ekologi dalam” ingin melakukan perubahan paradigma, dari yg semula antroposentrisme menjadi ekosentrisme artinya pandangan yang mempertimbangkan keberlangsungan seluruh kehidupan dalam ekosistem, lantas pertanyaan muncul apakah bermoral untuk melakukan pemunahan massal, ekologi dalam kemudian mengusung satu gagasan yang disebut sebagai egalitarianisme biosfer, yaitu pandangan yang mengakui bahwa seluruh bentuk kehidupan memiliki nilai intrinsik. Artinya, manusia, hewan, tumbuhan, dan pelbagai bentuk kehidupan lainnya memiliki nilai pada dirinya sendiri, bukan semata-mata berdasarkan manfaat yang dapat diberikan kepada manusia. Gagasan ini tidak berarti bahwa semua makhluk hidup memiliki fungsi yang sama, tetapi menegaskan bahwa kehidupan nonmanusia tidak seharusnya dianggap tidak bernilai hanya karena tidak memberikan keuntungan bagi manusia.

Bab II

Karhutla sebagai manifestasi krisis ekologi dalam.

Persoalan ini dapat kita lihat dalam fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekedar persoalan kebakaran yang menghanguskan kawasan hutan, lebih dari pada itu dapat kita baca sebagai manifestasi krisis ekologi dalam (Deep Ecology). Krisis ini muncul ketika hubungan manusia dengan alam dibangun atas dasar kepentingan dan pemanfaatan, sementara itu nilai kehidupan diluar manusia diabaikan. Melalui perspektif egalitarianisme biosfer, kebakaran hutan tidak cukup dipandang sebagai kerugian ekonomi atau ancaman terhadap kehidupan manusia. Kehancuran hutan juga merupakan persoalan etis karena mengancam keberadaan berbagai bentuk kehidupan yang memiliki nilai intrinsik. Oleh karena itu, pelestarian alam perlu didasarkan pada kesadaran bahwa kehidupan di luar manusia juga layak dihormati dan dijaga keberlangsungannya.

Epilog

Barangkali, krisis ekologis bukan sekedar alam yang rusak, tetapi juga tentang manusia yang kehilangan kesadaran akan batas dirinya.

sejenak saya mengutip kalimah yang penuh reflektif dari seorang pegiat alam, beliau berkata:

“Jangan ambil apa pun, termasuk foto. Jangan tinggalkan apa pun, termasuk jejak. Jangan buang apa pun, termasuk waktu,” ujar hutan pada manusia yang tidak bisa menepati janjinya.”

-Fiersa Besari

Dipda Fiqry Hartaman

Ditulis oleh

Dipda Fiqry Hartaman